Terjebak di Pulau Mursala

Terjebak di Pulau Mursala

Salah satu spot di Pulau Mursala

Oktober 2012 – Saya bersama teman-teman (para srikandi) kantor berencana menyeberang ke Pulau Mursala dari kota Sibolga. Kota yang terletak di pantai barat pulau Sumatera ini  lebih populer dibanding Kabupatennya yaitu Kabupaten Tapanuli Tengah (TapTeng).

Gambarannya sih seperti ini: traveller yang berasal dari luar Medan harus terbang dahulu menuju Bandara Kuala Namu di Medan. Perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan pesawat terbang kurang lebih 45menit menuju lapangan udara FL Tobing, Pinangsori. Garuda Indonesia melayani perbangan langsung dari Jakarta menuju Sibolga dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Opsi lain menuju Sibolga adalah lewat darat. Hmmm waktu yang cukup lama 9 jam dari Medan -Sibolga. Dari pelabuhan Sibolga, kalian bisa menyewa speed boat agar bisa memangkas waktu dan lebih nyaman. Atau perahu biasa dengan kecepatan yang biasa-biasa saja. Biaya sewa ada di range 1,5jt hingga 2jt.  eiittsss jangan lupa nawar yahh.. sapa tahu kalian beruntung !

Beeh, dah keliatan kan cost yang kita perlukan agar bisa melihat panorama alam yang menawan ? Jika bepergian dengan beberapa kawan, kalian bisa patungan sewa speedboat.

Dengan luas sekitar 8.000 Ha pulau Mursala atau Mansalaar adalah pulau terbesar di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Pagi itu cuaca mendung, angin pagi di tepi pantai menusuk tulang. Langit tidak biru, awan kelabu menyelimutinya.  Bahkan semesta turut sedih karena satu kawan tidak dapat melanjutkan ngetrip ke Mursala dan Pulau Nias, karena urusan keluarga. Kami hanya sempat staycation syantik di hotel Bumi Asih, Sibolga.

Kondisi hari itu semakin galau  saat  mendapat kabar Tekong (pengemudi kapal) membatalkan secara sepihak jadwal keberangktan kami. Wahh panik dong.. jangan sampai gagal nih perjalanan ke Mursala. Bukan apa-apa Saya tak rela jika crew filem Kingkong (2005 ) sudah menjelajah tiap jengkal pulau yang terkenal eksotis ini. Walau mereka datang dari benua lain. Nah kami pemuda-pemudi Indonesia masa gegara ga dapat perahu mimpi harus kandas sih.

Beruntung salah satu kawan berhasil mendapatkan kapal pengganti. Agak alot juga saat kami menawar harga sewa perahu. Tawar-menawar harga, lalu mereka mempersiapkan bahan bakar dan yaaayyy beranggkaaattt !

Pantai pasir putihDari Kota Sibolga, masyarakat sekitar lebih sering menjenguk Pulau Mursala dengan menggunakan kapal cepat dengan waktu tempuh sekitar enam puluh menit. Atau menggunakan kapal biasa dengan melintasi teluk tapanuli selama tiga jam perjalanan. Kecepatan perahu yang kami tumpangi tidak secepat kapal cepat, apalagi mesin motor hanya satu .

Perahu kami melewati beberapa pulau cantik berpasir putih. Pemandangan saya sempat tertuju pada benda terapung di permkaan  laut biru, ashh ternyata bangkai seekor kura-kura. Sudah membusuk, sedikit tercium amis dari hembusan angin.

Pasir putih bersanding dengan bebatuan dan pohon

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Air terjun kecil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Air terjun yang langsung jatuh ke permukaan lautFenomena alam yang tidak biasa dapat traveller temukan di sini adalah menyatunya air tawar dengan air laut.  Air jernih mengalir di atas bebatuan granit berwarna kemerah-merahan menambah keceh pemandangan di pulau yang pernah difilemkan dengan judul Murasala (2013)

 

 

Pulau Mursala masih terdapat daratan yang sebahagian ditumbuhi hutan tropis. Lautnya masih asri dengan biota laut yang beragam. Tak hanya berenang, kami pun menyusuri laut biru dengan snorkling. Ada juga yang bermain perahu ataupun berswa foto dengan pohon kelapa yang condong ke laut.

Hari belum begitu senja ketika kami hendak kembali pulang. Namun hujan deras ditemani angin kencang yang datang sore itu memaksa kami untuk menunda perjalanan. Dengan wajah-wajah kedinginan dengan tempat berteduh ala kadarnya, kami tetap berharap semoga tidak bermalam di pulau. Tak ada tenda, rumah penduduk apalagi kamar hotel dengan kasur empuk.

Jam delapan malam kami berjalan menuju pompong (perahu kecil) yang telah diparkir di tepi pantai.

Belum satu mile perjalanan, mesin perahu tiba-tiba mati. Deg… walau panik saya mencoba untuk terlihat tenang, untungnya kawan-kawan lain pun tidak histeris. Pelampung tidak ada.

Di tengah laut dengan penerangan sinar bulan seadanya, motoris perahu tidak dapat menyelesaikan tugas dalam waktu singkat. Kami pun para pereu tidak ada pengetahuan tentang mesin kapal, hanya bisa duduk dan berdoa semoga ada keajaiban.

 

Cloudy day

So amazing.. menyusuri pantai dan laut Sumatera Utara pada malam hari sungguh perjalan yang tidak bisa dibayangkan. Kami sungguh berterima kasih pada Allah SWT atas penyertaan-NYA. Enam tahun sudah kejadian itu berlalu. Air terjun eksotis, terombang-ambing di laut Tapanuli, perut keroncongan dan harapan untuk kembali pulang dengan selamat adalah bagian-bagian perjalanan yang tidak akan terlupakan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *