Jatuh Hati di Pantai Menye

Jatuh Hati di Pantai Menye

Lukisan  “Moii Indie” karya Sang Pencipta
“ke Aceh-nya dimajuin ajah ya”?
“Bagaimana bisa” ?
“iya nih, hasrat ke berlibur ke wilayah paling utara pulau Sumatera semakin besar”. Tetiba saja kawan yang mengajak bepergian ke Aceh berubah pikiran. 
Jadwal keberangkatan ini dipercepat dua bulan dari rencana. Awalnya kami bertiga akan terbang dari Jakarta ke Provinsi paling barat Indonesia ini di bulan Oktober. Lalu berubah ke Agustus tepat setelah 17an. 
Entahlah, tidak ada bantahan dari saya dan  dengan pergantian jadwal tersebut. Apa karena saya orangnya impulsif ? segala hal yang terkait travelling, sangatlah mudah mempengaruhi keputusan saya ? Padahal belum genap sebulan saya kembali dari New South Wales, saya sudah harus hunting tiket lagi ? 
“Dear God, would you please please assists me” ? 

Sejenak,  saya menenangkan pikiran. 
Inhale… Exhale – inhale…. exhale, close your eyes!

Inhale deep, exhale relax…..
Di belakang meja, kesepuluh jari-jari saya menari dengan gesitnya di atas keyboard laptop menelusuri mesin pencari “tiket Palembang ke Banda Aceh”
Outch…. pergelangan tangan kiri dan kanan saya yang menempel pada laptop merasakan sengatan listrik ringan.  Ini bukan yang pertama sih. Pencarian saya hentikan sejenak. 
Voila, saya ingat, sebelum Idul Fitri kemarin, seorang kawan beli 2 tiket pesawat rute CGK-KUL di //www.tiket.com/ dengan harga terjangkau. “Sering ada promo loh,  dan  kita bisa mengumpulkan point dari transaksi pembelian tiket atau pemesanan kamar hotel”. kata kawan tersebut. 
Langsung saja saya menuju tekape, nyari tiket pesawat – Iyes, benar saja… Maskapai penerbangannya beragam sist, tinggal milih sesuai kebutuhan. Saya ambil rute dari Palembang ke Aceh dengan satu kali transit di Batam. Sengaja memilih transit di Batam, karena belum pernah mampir ke kota yang kabarnya bebas pajak untuk pembelian barang elektronik. 
Penampakan saat Aceh semakin dekat

Gampang banget pemesanan tiket di tiket.com : pilih penerbangan, isi data penumpang, lalu bayar dan tiket elektronik terkirim ke alamat email.

Sempat galau sesaat, gimana beli tiket pesawat dalam waktu yang singkat, saat itu saya sedang berada di remote area dengan segala keterbatasan yang ada. Bersyukur banget semua proses berjalan dengan baik walau koneksi internet tidak begitu stabil.

Oiya gaes, point yang saya maksudkan di atas bisa kita peroleh hingga 7% dari transaksi. nantinya point tersebut bisa ditukarkan dengan berbagai marchant keceh yang ada, bisa juga berupa potongan harga langsung untuk pembelian tiket pesawat. 
Bejibun yahhh keuntungan yang kita dapat saat bertransaksi di tiket.com —– Pokoknya ga pake lama dech kalo sedang berburu tiket pesawat, atau kereta dan sedang nyari kamar hotel, segera kunjungi 
Selamat Datang di Dataran Tinggi Gayo
10.001 Penari Saman Gayo Lues Agustus 2017 – Sumber : GENPI MALUT
Akhirnya peserta Aceh Trip 2017 ada tiga dara cantik – dua orang dari Jakarta dan saya seorang dari Palembang, Sumatera Selatan. Meeting point di Bandara Sultan Iskandar Muda akan diputuskan siapa yang duluan tiba di Aceh. 
Sekitar pukul 3 sore lewat, kami menuju kota Banda Aceh dan menikmati wisata religi, berkunjung ke beberapa pantai yang masih jarang diberitakan dan tak ketinggalan wiskul a.k.a wisata kuliner
Dari Banda Aceh, kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Takengon, kota yang berada di ketinggian 1,200 meter dari permukaan laut. Melewati jalanan mulus, berkelok dan kadang berbatu selama delapan jam. Sebenarnya ada penerbangan langsung ke Takengon dari Medan – jika teman-teman travelers enggan berlama-lama duduk di mobil. 
Suguhan warna biru cerah langit dihiasi awan putih yang memayungi mobil kami dari sinar terik matahari dipadu hijaunya pohon kiri kanan jalan merupakan bonus perjalanan panjang ini. 
Sengaja kami berhenti di beberapa spot cantik untuk berswa foto ataupun mampir mengisi perut yang keroncongan dan memesan secangkir kopi panas. Melakukan peregangan ringan agar tubuh menjadi segar dan siap melanjutkan trip ini. 
Tanah Gayo ini mendunia karena komoditas kopinya yang numero uno – di Dunia loh bukan hanya di Indonesia. Mau rahasianya kenapa kopi gayo mendapatkan peringkat dunia ?
Psstt katanya dari pola tanam kopi di sini berbeda dengan tempat lain… cerita kopi gayo menyusul ya prends…. biar kalian tidak kehilangan details-nya
Selain Kopi, kami juga penasaran dengan Danau Laut Tawar yang tersohor itu. Sumatera Utara boleh bangga dengan Danau Tobanya dan Sumatera Selatan menjagokan Danau Ranau, Takongan juga punya Danau Laut Tawar…. 
Wah-wah, luar biasa kekayaan alam Indonesia —– 
Danau Laut Tawar

Jam 7 pagi kami sudah siap menyantap sarapan di hotel. Menurut iten yang telah kami buat, hari ini kami akan berkeliling Danau Laut Tawar, danau yang dikeliling perbukitan hijau dengan suasana pedesaan yang ramah… behhhh Takengon rasa Eropa nih !!!

Rencanakan perjalanan kalian jauh-jauh hari yah jika tidak ingin kehabisan tempat menginap. Apalagi saat event nasional sedang berlangsung – Agustusan di Takengon sangatlah ramai. 

Pemerintah daerah banyak mengadakan acara sebagai upaya mempromosikan wisata daerah. Di tempat kami menginap, ada seorang pelancong yang berasal dari Swiss. Dia berencana menghabiskan dua bulan berkeliling Indonesia. 

Kami sempat menawarkan tempat buat pelancong mancanegara tersebut, karena memang mobil masih bisa angkut satu orang lagi, namun sayang belum bisa bergabung karena akan melanjutkan perjalanan ke Kota Cane pada pukul 12 siang nanti.    

View mendekati Pantai Menye

Danau seluas 5.472ha ini terletak di Kecamatan Bintang, sekitar 19km dari kota Takengon. Paling asek memang berkendara mengelilingi danau, mau lebih spektakuler lagi cobalah bersepeda… huaahhaaa – dijamin sehat brooooo. Jika datang dari arah selatan, jarak tempuh ke danau ini sekitar 26km.  
Sepanjang perjalanan, saya mengabadikan memen-momen indah dengan kamera telepon. Pastinya para fotografer handal akan bahagia banget di sini, karena setiap angle danau ini memberikan nuansa yang berbeda. Kalian pastinya akan dimanjakan dengan cuaca cerah dan warna rumput kekuningan, hijaunya pohon nan tinggi. 

Mengarah ke timur danau, kalian akan mendapati pantai cantik nan elok  dengan deburan ombak dan angin yang tak berhenti berhembus. Pantai Menye, orang-orang sekitar menyebutnya.

Nelayan di Pantai Menye

Tak ada yang tahu pasti pantai indah tersebut dinamakan pantai Menye.
Menye dalam bahasa Gayo mempunyai arti Manja – bisa saja pantai ini merupakan pantai tempat bermanja atau secara harafiah artinya  pantai bermanja ?
Pantai ini juga merupakan tempat berlatih para joki yang rata-rata masih anak-anak. Menunggani kuda dengan beraninya tanpa pelana. Kuda-kuda berlari kencang di antara deburan ombak 
Kami menikmati sunset romantis ala pantai Menye…. sungguh pengalaman unik dalam cerita travelling saya kali ini. Pantai di atas pegunungan. Tak ada jagung bakar di tangan saya, pun secangkir kopi enak…  saya tetap terpesona menjelajahi tiap sudut pantai Menye. 
Duduk di tepian pantai, merasakan hembusan angin di kulit dan rambut saya,  memandang indahnya warna langit senja, walaupun dengan durasi yang tak lama, sunset seolah memiliki magnet dengan daya yang luar biasa tinggi sehingga mampu membuat siapa pun terpana. 
Momen ini memberikan sebuah cerita bahwa Each traveler has their own story !!!

Menikmati deburan ombak Pantai Menye

Thank you come again  

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog yang bertema “Surga Tersembunyi di Daerahku” yang diprakarsai oleh Detik Travel dan Tiket.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *