Tiang Alif, Rekaman Jejak Peradaban Islam di Maluku

Tiang Alif, Rekaman Jejak Peradaban Islam di Maluku

Maha Agung Allah yang mempunyai Kebesaran dan Karunia 
(Ar Rahman; 58)
Bukan hanya di pulau Jawa, Islam juga berkembang di Maluku. Banyak sekali sejarah dan budaya yang bisa digali mengenai perkembangan Islam di sini, salah satunya adalah Tiang Alif. Seperti apa kisahnya? yukksss check this out

Kantor Gubernur Provinsi Maluku
Berbicara tentang peradaban Islam di Indonesia, tidak terlepas dari perkembangan Islam di Maluku yang merupakan wilayah tertua di Indonesia. Maluku berasal dari kata Al-Mulk yang memiliki arti “kerajaan” mewarisi nilai-nilai Islam tinggi peninggalan para leluhur  di zaman penjajahan Belanda dan Portugis. 
Peradaban Islam di Maluku secara historiografi datang dari Timur Tengah dan melintasi  ruang, waktu dengan tempaan berbagai budaya yang membentuk  karakter baru. Pembaharuan ini kemudian berakulturasi dengan kearifan budaya lokal  sehingga  lahirlah  sebuah peradaban Islam di Maluku.
Warisan tersebut dapat kita lihat secara nyata pada masjid-masjid yang masih tegak berdiri sampai saat ini walau usianya tidak sedikit. Masjid bersejarahh yaitu Masjid Agung Annur yang dibangun abad XVI terletak di Jalan Sultan Hasanudin, Desa Batu Merah, Ambon. Serta Masjid Tua Wapauwe di Desa Kaitetu yang didirikan pada tahun 1414.  Menuju ke utara bisa kita jumpai Masjid Kesultanan Kie Raha (Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo)

Masjid Al Munawwarah, Ternate, Maluku Utara

Masjid Tua Wapauwe berbentuk unik dengan konstruksi masjid dirancang tanpa menggunakan paku. Menara Kubah yang terbuat dari kayu yang berbentuk silindris dengan aluran yang penuh makna simbolik. Imam di masjid tersebut adalah Imam Rijali. Masjid ini mulanya berada di atas gunung.

Namun, ketika terjadi perang Wawane tahun 1682, Belanda meminta masjid ini dipindahkan ke area pesisir. Sayangnya sumber daya yang ada saat itu tidak memadai untuk memindahkan  masjid tersebut sesuai keinginan Belanda. Berkat ilmu supranatural Imam Rijali maka dalam hitungan satu malam masjid Wapauwe berpindah dengan bentuk bangunan asli tanpa kurang satu apapun.

Masjid Wapauwe, Desa Hila, Ambon, Maluku
Masjid Wapauwe, Desa Hila, Ambon, Maluku

Ukiran langit-langit Masjid Wapauwe, Desa Hila, Ambon, Maluku

Tiang Alif, Masjid Wapauwe, Desa Hila, Ambon, Maluku
Selain masjid sebagai bukti sejarah, ada pula peninggalan Quran di Maluku yang ditulis tangan pada kertas yang berasal dari benua Eropa. Al-Quran tersebut ditulis tangan oleh seorang murid Imam Rijali “Nur Cahya’, pada tahun 1550. Hingga saat ini Quran tersebut tersimpan rapi di rumah juru kunci di dekat masjid. 
Sang juru kunci dengan Quran tertua di Nusantara

Quran tertua di Nusantara Masjid Wapauwe, Desa Hila, Ambon, Maluku
Peradaban Islam yang bersifat monumental di “Negeri-negeri Kerajaan” (Maluku) yakni sebuah tradisi ritual “mendirikan” Tiang Alif (menara kubah). Masyarakat lokal tidak menyebut menara kubah seperti nama kubah pada umumnya, mereka memilih menyebut Tiang Alif yaitu tiang yang berdiri kokoh tegak di puncak kubah. 
Filosofi Alif melambangkan nilai ketauhidan. Alif merupakan alfabetikal pertama dalam bahasa Arab. Pun saat pertama kali Al-Quran disampaikan Allah SWT melalu malaikat Jibril kepada Rasul yaitu, “Iqra” yang artinya bacalah (Al-Quran, Surah Al Alaq) diawali dengan  huruf  Alif.  Di sisi lain tiang  alif  ini  merupakan “pembeda” antara tempat peribadatan yang ada di Maluku. 
Tiang Alif diyakini adalah sebab dari segala sesuatu dan ia merupakan kehormatan umat manusia dalam menjalani hidupnya. sehingga proses pemancangan tiang di puncak kubah pun tidak sembarangan. Moment awal dari pemilihan batang pohon yang akan digunakan sebagai tiang hingga saat pemancangan harus melewati prosesi adat melibatkan seluruh kalangan masyarkat, baik yang ada di pesisir dan di pegunungan.
Rumah Kepala Desa Hila, Ambon, Maluku
Terdengar  kumandang  adzan saat batang pohon siap dibawa ke kampung, selama  perjalanan menuju kampung iring-iringan kalimat tauhid terdengar. Para tukang yang terdiri dari Kepala tukang dan Asisten tukang berada di Baileo (tempat pertemuan) saat menyelesaikan  misi  mulia ini. Para istri dengan tulus menemani. Yang menarik selama pengerjaan tiang sakral ini ada Tua-tua adat (sesepuh) yang bertugas melantunkan Jawe (tembang keagamaan) yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT.
Sehari sebelum tiang alif dipancang, menara terlebih dahulu disucikan dengan cara dimandikan dengan air yang telah dibacakan doa sebelumnya. Air tersebut biasanya akan menjadi rebutan warga setempat  karena  dipercayai membasuh muka  dengan air  tersebut dapat membuat wajah awet muda. 
Dalam terpaan angin yang cukup kencang para tukang mulai menyelesaikan tugas memasang tiang alif. 
Makna dari semua rangkaian ritual ini semata-mata untuk mengagungkan dan menjunjung tinggi Asma Allah SWT pencipta Alam Semesta. 

3 Replies to “Tiang Alif, Rekaman Jejak Peradaban Islam di Maluku”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *