Bersama Garuda Indonesia Melintasi Samudera Hindia Hingga Samudera Pasifik Part II

Bersama Garuda Indonesia Melintasi Samudera Hindia Hingga Samudera Pasifik Part II

Discover The Secret of Morotai, Relics of World War II 
Expedisi menjelajah Nusantara masih berlanjut… penerbangan dengan Garuda Indonesia selanjutnya menghantarkan saya menuju wilayah timur Indonesia.. bukan…saya tidak ke Ambon Manise melainkan ke Ternate setelah transit 20 – 30 menit  di Negeri Nyiur Melambai (Manado). 

Tiga jam mengudara, tak masalah selama fasilitas yang disediakan maskapai penerbangan seperti Garuda Indonesia membuat para penumpang termasuk saya merasa nyaman. Landing di Bandara Sultan Babulah, belum ada fasilitas garbarata di Bandara ini. Hiruk pikuk para crew bandara terlihat dari kaca jendela mini bus yang membawa kami ke ruang kedatangan.

Oh iya, hanya ada satu Bandara di Ternate, di sinilah tempat transit jika hendak melanjutkan penerbangan ke daerah (yang masih masuk wilayah Maluku Utara), misalnya ke Morotai (pulau terpisah) atau ke  Galela dan Kao. Flight ke lokasi tambang juga  diberangkatkan  dari  airport  sini. 


Peta berikut adalah rute darat yang sengaja saya pilih… Lima belas tahun lalu saya beruntung bisa berkelana ke tiap sudut Pulau Halmahera dengan speedboat super cepat, helicopter atau pesawat fokker, sayangnya saya hanya bisa melihat  keindahan  pulau  pulau  eksotis ini dari ketinggian, . 
Kali ini saya ingin lebih dekat dengan masyarakat lokal,  berinteraksi langsung dengan mereka, walau Solo traveling ke tempat ini saya happy karena masyarakatnya murah senyum dan welcome banget…. dan yang lebih exciting adalah rute trip jauh ini saya nekat  lintas darat,  menyeberangi lautan dengan  ferry dan speed boat rakyat, tinggal di rumah penduduk (bukan guest house  ya…)   
Ternate – Sofifi – Tobelo – Morotai – Tobelo – Sofifi – Ternate -Manado – Jakarta
Ternate – Sofifi dengan speedboat membutuhkan waktu sekitar 1jam 
Sofifi – Tobelo kira-kira 4 -5 jam dengan menggunakan mobil 
Tobelo – Morotai dengan ASDP (ferry) waktu tempuh sekitar 2jam 

Ternate – Kie Raha begitulah nama lain Maluku Utara. Kie Raha yang mempunyai arti empat kerajaan besar yaitu Kerajaan Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan. Sebelum otonomi daerah, Ternate adalah Ibu Kota Provinsi Maluku Utara. Ibu Kota Provinsi sekarang berada di Sofifi, Pulau Halmahera. 

Maluku Utara memiliki kekayaan alam yang luar biasa, Lautan yang menyimpan keindahan alam bawah laut yang memukau, hasil laut melimpah. Di daratan terutama pulau Halmahera menyimpan sumber daya alam seperti tambang emas yang berlokasi di Desa Kao, tambang nikel di daerah Weda, aroma rempah-rempahnya tersohor sampai ke  Eropa,

Hanya memakan waktu sekitar dua jam jika Anda berniat mengelilingi (round gunung – istilah lokalnya) kota kelahiran Bunda Dorce Gamalama; dengan catatan tidak ada tempat persinggahan… dengan bejibun keelokan alam saya tidak merekomendasikan untuk stay cool di mobil sambil meng-update status di sosial media – yukkksss sejenak escape from the routine and keep gadget away…

Secara general kota-kota di wilayah Indonesia timur berdampingan langsung dengan laut, pun Ternata. Indah kan?, sambil nyetir liatnya laut biru yang teduh, seteduh mata Bang Gerad Pique. Tentu saja lautan di sini tenang, karena masih berada di kawasan Samudera Pasifik.

Kata Wikipedia, Samudera Pasifik atau Lautan Teduh (terjemahan dari bahasa Spanyol “Pacifico” artinya tenang) adalah kumpulan air terbesar di dunia, kira-kira sepertiga permukaan Bumi, dengan luas sebesar 179,7 juta km2, dengan panjang sekitar 15.500 km.

Anda bisa melihat kapal Pelni (Kapal Muatan Penumpang) yang akan berangkat/bersandar di pelabuhan dari Jl. Tanah Tinggi (depan Rumah Sakit Umum). Kerlap-kerlip lampu kapal nampak cantik dari kejauhan. Bagi mereka yang akan berlayar, biasanya saat kapal tersebut stom barulah para calon penumpang bergegas berangkat ke pelabuhan.

Istana Kesultanan Ternate 
Pemandangan dari depan Kesultanan Ternate

Kegembiraan anak-anak saat bermain bola 

Aktifitas warga – menjemur cengkeh dan pala 

Danau Tolire – konon jika Anda melempar batu ke dalam kawah ini tidak akan sampai ke dasar, kalo dianalogikan mungkin karena kedalaman danau tersebut jadi saat batunya mendarat mata telanjang ktia tidak bisa menangkap peristiwa tersebut. 


Sore itu hanya saya seorang pengunjungnya, ditemani Pak sopir yang baik hati mau motoin.. Saat senja itu, saya sangat yakin kalo objek yang saya liat di Danau tersebut adalah seekor buaya, dengan camera pocket saya optimalkan fungsi zoom.. jepret, jepret langsung cussss menuju mobil. 

Danau Tolire dengan gunung Gamalama di belakang kami 

Hiruk Pikuk di Dermaga Bastiong, Ternate 

Masjid Al Munawwarah, Ternate, Maluku Utara
Sofifi – Tobelo – Anda bisa naik kapal feri dari Pelabuhan Tobelo untuk menuju Pelabuhan Ms Lastori, Kota Daruba, Morotai. Biayanya sangat murah sekitar Rp 20.000, (hard seat), saya up grade tiket dengan caraa menyewa kamar ABK (Anak Buah Kapal), biaya up grade sebesar Rp50,000. 

Dermaga Sofifi, Maluku Utara
Jalan darat menujut Tobelo 
Pelabuhan Tobelo 
Sunset di salah satu pantai Tobelo 

Antrian kendaraan menunggu Ferry – KMP Gorango 

KMP Gorango – We Bridge The Nation – (Jargon PT. ASDP)  

Salah satu Pantai rekreasi di Tobelo

Aktivitas bongkar muat di kapal kayu di Pelabuhan Tobelo


Wajah Sejarah – Morotai adalah pulau kecil yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. walaupun kecil secara geografis pulau ini sangat strategis, sampai-sampai saat Perang Dunia II, tentara Jepang dan Sekutu sama-sama memiliki Pangkalan Militer. Hingga saat ini 

Tahun 2000 – 2001 kerusuhan di Ambon merambat hingga ke Ternate sekitarnya, satu-satunya daerah yang netral adalah Morotai, karena mungkin pulau dan Pangkalan Udaranya dikelola oleh TNI. Dari atas chopper kami melihat orang berbondong-bondong mengungsi,  

Saat kerusuhan terjadi saya satu-satunya perempuan yang berada di tambang di wilayah Kao, Halmahera Utara, bersama satu expatriate yang saat itu beliau sebagai Acting General Manager, kami harus mencari tempat yang aman bagi para karywan yang saat itu semuanya panik, semua mau segera berangkat – di satu sisi kami juga terkendala sarana transportasi. 

Terlalu berbahaya jika mereka diberangkatkan dengan bus, karena sebelumnya sudah ada karyawan yang ditawan satu bus. satu-satunya jalan adalah lewat udara dengan jumlah seat di helicopter sekitar 8-12 seats. yaaaa wilayah yang paling aman adalah Pulau Morotai tersebut, saat tiba di Pangkalan Udara Militer Morotai sudah banyak warga lokal lain yang juga akan mengungsi… wuiiuhhhh sungguh pengalaman yang tak terlupakan sama kritisnya saat PD II .

Anyway, Morotai  banyak menyimpan penggalan sejarah PD II, mulai dari kapal karam yang dijadikan museum bawah laut, Pulau McArthur (pulau Zum-zum); dinamakan pulau McArthur karena Sang Jenderal selalu ke pulau ini bersama keluarga untuk berlibur walaupun berkediaman di Papua (cerita langsung dari Bapak Purnawirawan yang ikut serta dalam perang waktu itu – Foto Bapak tersebut bisa dilihat di sini). Di pulau ini ada monumen kecil  patung kepala McArthur.

Sayang  sekali  baterai kamera low, tidak sempat mengabadikan patung tersebut. menurut para pekerja konstruksi di pulau Zumzum, patung terebut akan digantikan dengan patung yang McArthur utuh alias full body. Malam  sebelumnya baterai kamera tidak di-charge. eh tanya kenapa? Mari kita tanyakan kepada Bapak Menteri ESDM & PLN, kenapa selalu mati lampu di daerah-daerah yang notabenenya penghasil sumber daya mineral terbesar.  Lain kali saat nge-trip, ikut idenya Shan Cai ah (serial Meteor Garden) yang selalu bawa baterai cadangan.

Selain  informasi di atas, ada juga Gowa Nakamura; seorang Jenderal Tentara Jepang yang melarikan diri ke hutan setelah Jepang kalah dalam PD II. Gowa ini blum terdaftar di Google map, jadi mencari jejaknya tidak bisa juga menggunakan aplikasi waze pada telepon pintar anda. Mendaki gunung, menuruni lembah, melewati sungai dan air terjun, kebun pala,  kebun kelapa dan kebun-kebun lainya. Belum  juga  menemukan tempat yang dimaksud.

Istirahat sejenak, sambil merenung…. dengan santainya seekor kupu-kupu yang lucu mendarat manis tepat di jari saya, dengan lembut saya bisikan, “kupu-kupu tunjukan jalan buat kita dong” please? Jangan heran, saya suka bercakap-cakap dengan flora dan fauna, terutama pada tanaman herbal di kebun kecil saya dan pada kucing di rumah, walaupun mereka tidak meresponse.

Saya beruntung bisa menemukan gowa tersebut bersama tour guide lokal dan seorang driver, dua tentara yang berasal dari Jawa Tengah harus kembali  dengan kecewa setelah perjalanan panjang yang  melelahkan  mencari gowa tersebut.

Air terjun yang kami temui di gunung tersebut adalah sumber mata air bagi penduduk lokal.

Benda-benda bersejarah lain peninggalan PD II seperti granat, senapan laras panjang, sendok garpu sampai botol minuman yang masih tersisa dipelihara dengan baik. Sedih mendengar cerita juru kunci, bahwa banyak barang-barang bersejarah tersebut dijual 🙁

Sekitar 53 pulau kecil tersebar di Morotai, saya menyewa perahu ketingting mengeliling beberapa pulau antara lain, pulau Dodola, pulau Galo-galo kecil, pulau Zumzum dan dua pulau lagi (maaf lupa namanaya).

Step your feet di bibir pantai dan rasakan pasir putih halus, di sini sudah tersedia akomodasi layak, di Pulau galo-galo kecil, ada 2 buah cottage yang sengaja dibiarkan tanpa listrik, tanpa terkoneksi dengan dunia telokomunikasi… siap terima tantangan stay di sini ?

Pelabuhan Daruba, Morotai

Pantai di salah satu pulau di Morotai 

Selamat Datang di Pulau Galo-galo kecil 


Berasa pantai milik pribadi – hanya saya penghuninya…

Swingggggg, sepoi-sepoi angin pantai, nampak penangkaran ikan di laut 


Barang-barang peninggalan PD II 
Sumber Mata Air Saat PD II
Bersama Saksi sejarah, juru kunci dan 2 TNI


Setelah kekalahan Jepang di PD II, pasukan mereka yang berada di Pulau Morotai juga didesak mundur Tentara Sekutu di bawah komando Jenderal Douglas McArthur. Jenderal Nakamura yang saat itu di Morotai melarikan diri bersembunyi di hutan belantara. 

Patung Jenderal Nakamura
Adventure kami mencari Gowa Jenderal Nakamura
Kupu-kupu cantik 
Air Terjun saat di hutan

Salah satu gowa yang akan berujung ke pantai...
Haus Mba ????? 

Ferry Morotai – Tobelo

Saya terlambat mengejar ferry Morotai -Tobelo, akhirnya saya naik Speedboat, lebih mahal sih tarifnya sekitar Rp. 100.000 – 150,000/px, tapi lebih cepat sampai tujuan (sekitar 20menit).

FYI: jika punya waktu, silahkan mencoba diving mengunjungi museum bawah laut – kapal karam peninggalan PD II.

Amazing kan? Ayo tunggu apa lagi, Jenderal McArthur yang dari USA aja ke Morotai pack your bag and gooooooo 🙂

Happy Travelling … 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *