Bersama Garuda Indonesia Melintasi Samudera Hindia Hingga Samudera Pasifik Part I

Bersama Garuda Indonesia Melintasi Samudera Hindia Hingga Samudera Pasifik Part I


And, when you want something, all the universe conspire in helping you to achieve it ” –  Paulo Coelho, The Alchemist


Tak lama lagi project ini akan selesai, lamunan saya berpindah ke alam bebas, di mana kaki berjalan lebih jauh, pandangan mata lebih luas…   
Tak lama lagi project ini akan selesai, otak saya berfikir akan ke mana kaki ini berkelana? Pengen liburan tapi “tema” nya harus beda… ide ‘gila’ keliling Nusantara ahhh macam mana caranya? keterbatasan waktu, tenaga yang pastinya financial – eh menurut Ngana ? Indonesia cuman Sulawesi doang? atau cuman Ambon dan sekitarnya? 

Tetiba ada kawan yang tertarik bergabung, namun hanya beberapa destinasi saja, karena dia terkendala dengan visa. 

That’s Fine… ada teman perjalanan artinya ada  teman ngobrol, motoin kita dan top of that… “sharing cost” Maklumlah setelah project ini belum tahu pasti apakah ada “gawean lagi” jadi  harus smart mengatur cash flow buat kelangsungan hobby travelling saya. 

Petualangan kami mulai dari Bandara Dr. Ferdinand Lumban Tobing, Sibolga dengan pesawat baling-baling (bukan baling-baling bambu seperti di filem kartun Doraemon) menuju Airport Polonia Medan, Sumatera Utara (saat itu Garuda Indonesia belum beroperasi di Lapangan Udara Sibolga). 


Dr. Ferdinand Lumban Tobing, Sibolga Airport

Penerbangan selanjutnya, kami memilih maskapai Garuda Indonesia, alasannya, selain faktor  “safety”, seluruh armadanya dilengkapi dengan head rest fleksibel yang dapat disesuaikan untuk kenyamanan  posisi  istirahat, good time for a nap, tidak banyak waktu bagi travellers untuk tidur so harus pinter-pinter alokasi waktu dengan baik. Koleksi penjualan “On Air” nya juga banyak,  serta cita rasa kuliner Nusantara yang royal bumbu. Semuanya disajikan dengan senyuman ramah Indonesia. Satu Jam penerbangan dari Polonia Medan – Airport Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh.  

Decak kagum dalam benak saat memasuki ruang kedatangan di Bandara Aceh, berasa di Middle East. Ukiran indah langit-langitnya membawa impian terbang ke Turki yang megah itu. Dengan indah saya simpan baik-baik mimpi itu, karena saat ini kami akan menikmati liburan yayyyyyyy

Banda Aceh

Ibu Kota Nanggroë Aceh Darussalam, provinsi paling barat Indonesia. Tahun 2004 porak-poranda oleh terjangan ganas gelombang Tsunami, seluruh mata dunia tertuju ke Aceh. Delapan tahun kemudian giliran saya berkesempatan menjajakan kaki di Bumi Serambi Mekah. Dari Bandara ke Banda Aceh kami memilih bus Damri, walau jadwal keberangkatan & kedatangannya hanya Tuhan dan sopirnya yang tahu, taksi juga ada di sini. Oh iya waktu itu tarif bus sekitar Rp. 20.000 – Rp. 25,000. Silahkan pilih sesuai kebutuhan


Setelah unpack, tancap gas kami langsung mengelilingi kota Banda Aceh. Lokasi tempat istirahat kami (Hotel 61) sangat strategis, bisa ke mana-mana dengan jalan kaki. Lalu lalang kendaraan di jalan tak nampak beda dengan pemandangan di Ibu kota Provinsi lainya. Siang itu cuaca terik membakar kulit, menembus sunscreen, tenggorokan kering kerontang minta segera dibahasi, slrrruuppppp air kelapa asli sebagai penganti ion tubuh yang hilang. 

Menemani travel mate  minum air kelapa murni

Pemandangan menjelang senja dari jembatan di kota Banda Aceh


Hanya berjarak 400-600meter dari hotel, kami berjalan menuju ikon kebanggaan Aceh, Masjid Baiturrahman setelah “melihat-lihat” area seputaran hotel. 

Masjid Baiturrahman – Masjid yang berdiri tegar setelah Tsunami 2004 merupakan masjid Kesultanan Acehdibangun oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam 1022 H/1612 M. Masjid ini beralamat di Jl. Muhammad Jam no.1, Kota Banda Aceh, sekilas bangunan masjid menyerupai Taj Mahal di Agra, India. 

Bagi Anda yang akan mengunjungi Masjid ini, terutama wanita diwajibkan memakai kerudung dan menutup aurat, dan pengunjung laki-laki mengenakan pakaian sopan. Masjid yang dijadikan tempat pengungsian ribuan orang saat Tsunami Aceh 2004 sempat dikungjungi para wisatawan mancanegara. Rasa ingin tahu yang besar mengantarkan masyarakat luar negeri mengunjungi Aceh setelah kondisi kota tersebut “pulih”. 

Puas berkeliling masjid dan photo selfie, tidak jauh dari lokasi masjid, ada pasar yang menjual souvenir dan tentu saja wisata kuliner yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Racikan bumbu masakan Aceh yang eksotis akan memberikan sensasi beda di lidah food lovers.

Masjid Baiturrahman di senja hari

Menyantap menu lokal yang lezzzzzaaaattt 
Kuburan Masal – Di area hijau inilah para korban Tsunami Aceh 2004 diistirahatkan, lokasi pemakaman ada di Jl Pocut Baren, Banda Aceh. Sengaja dibangun monument yang berbentuk gelombang untuk mengenang tragedi tersebut dan masyarakat Aceh pun telah bangkit dan siap menata masa depan. 

Tersedia beberapa saung dan telah disiapkan bacaan Yaasin bagi pengunjung, kami tunduk sejenak mengheningkan cipta mendoakan para Suhadah yang telah berpulang ke Rahmatullah, semoga mereka mendapatkan tempat di sisi-Nya, Amin. 

Kuburan masal para korban Tsunami Aceh, 2004

Bangkit dan menata hidup setelah Tsunami memang tidak mudah, saudara-saudara kita di seluruh Nusantara termasuk dunia international membantu Aceh. Sedih memang bila mengingat tragedi tersebut selalu ada hikmah di balik cerita hidup. 

Penggalan peristiwa silam dikemas apik oleh kearifan lokal menjadikan tempat-tempat yang terkena Tsunami sebagai tempat kunjungan wisata, tempat kita belajar banyak tentang fenomena alam, kisah hidup adik-adik kita yang harus berdiri dan kembali ke sekolah dengan senyum dan tawa riang. 

Berikut tempat yang “bersejarah” dapat anda kunjungi jika berada di Aceh selain dua tempat di atas. 

Kapal Apung Lampulo – Salah satu wilayah terparah yang terkena imbas Tsunami adalah Desa Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Satu perahu nelayan terdampar di atap rumah warga. Kapal yang terbuat dari kayu dengan panjang 18 meter tersebut dibiarkan bertengger di lantai dua rumah Ibu Abasia, warga setempat yang selamat dari Tsunami.  Lokasi ini dijadikan objek wisata, Anda dapat membaca detail cerita di papan yang tersedia deket museum kapal nelayan ini. 


Museum Tsunami –  Museum yang didirikan untuk mengenang peristiwa 24 Desember 2004 didisain oleh Ridwan Kamil seorang arsitek yang terpilih sebagai pemenang lomba design museum, luas museum adalah  2,500 m2. 

Pemandangan dari ketinggian akan tampak atapnya menyerupai ‘gelombang pasang laut”, tarian Saman menghiasi dinding museum yang melambangkan  kekuatan  dan  keyakinan  agama yang kuat di Aceh.  Lantai dasarnya  dibuat menyerupai rumah tradisional Aceh yang berdiri kokoh setelah Tsunami.  

Ada sebuah lorong yang menuliskan nama-nama korban Tsunami dan terdengar alunan syahdu ayat-ayat suci Al-Quran. Lorong tersebut diapit oleh dua dinding tinggi dengan suara gemercik air sebagai simbol gelombang Tsunami, Galeri Foto berada di ruang lain yang “memamerkan”  photo dan atau video dan rupa-rupa benda yang  selamat  dari amukan gelombang laut tersebut. 

Bendera negara-negara yang turut membantu Aceh digantung di atas langit-langit ada di sisi lain museum. Anda dapat membeli buah tangan dan kopi Aceh di toko souvenir yang berada dalam satu gedung. Di sebelah  Museum Tsunami, ada juga wisata sejarah lain yaitu kuburan Belanda yang tertata apik. 


Salah satu photo di Galeri Photo Museum Tsunami Banda Aceh

Museum Kapal Tsunami – Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang berbobot 2,600ton pun terseret sejauh lima kilometer ke daratan saat Tsunami. Hingga kini kapal tersebut diabadikan sebagai museum.  kapal sepanjang 63 meter ini ada Gampong Punge Blang Cut, Banda Aceh. Sebelum memasuki kapal kita bisa melihat taman edukasi lengkap dengan informasi tentang tsunami, saya  pribadi  menyukai miniatur kapal yang ada di taman tersebut. 


Air Terjun Suhom – selain tempat  rekreasi, air  terjun ini juga  berfungsi  sebagai Pembangkit Listrik Tenaga mikrohidro sehingga jangan heran kenapa pengunjung tidak dibolehkan ke arah air terjun dari sisi tebing, dikuatirkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi (tergelincir dll)

Air terjun deras ini berada di antara Desa Suhom dan Desa Kreung Kala, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Pembangkit listrik tersebut dioperasikan untuk penerangan warga setempat sekitar 200-300KK (Kepala Keluarga)

Banyak pohon Durian di sekitar sungai, pengunjung bisa makan durian sambil menikmati sejuknya air terjun, Kami sempat mampir di salah satu warung, menyantap mie rebus sebagai penghangat perut. Namun sayangnya masih banyak sampah dan hewan peliharaan yang belum dikelelola dengan baik. Kulit durian dan bungkus pop mie berserakan di sela-sela bongkahan batu besar.

Perjalanan kami lanjutkan ke pantai Lhok Nga dengan menikmati liukan jalan yang menampilkan pesona biru laut di sebelah kiri, sesekali kami berhenti hanya untuk menghirup udara laut yang katanya baik untuk paru-paru, dan mengagumi ciptaan Sang Maha Kuasa


Air Terjun Suhom sekaligus PLTA

Warung di sekitar air terjun Suhom

Sampah dan hewan ternak di lokasi air terjun Suhom


Jembatan USAID 

Pantai Lhok Nga – Pantai barat Aceh merupakan pantai pasir putih nan halus, dan beragam biota laut hidup di sini. Saat akhir pekan pesisir pantai akan dipenuhi oleh pengunjung lokal, pengunjung daerah lain pun wisman. Rehat sejenak sambil icip-icip durian lokal dan pastinya air kelapa selalu menjadi teman terbaik. 

waspadai ombak tinggi jika ingin berenang, kita bisa lihat tanda larangan yang dibuat oleh tim penjaga pantai atau silahkan bertanya pada pedagang di sekitar pantai, untuk perempuan yang ingin berenang wajib menggunakan pakaian yang menutup aurat.

Pantai Lhok Nga, Pantai Barat Aceh
Berpiknik menikmati angin laut di Pantai Lhok Nga

Benteng Indra Patra –  Putra Raja Harsa dari Kerajaan Lamur (abad ke-7) membangun benteng ini. Benteng kokoh ini berlokasi di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Dahulu di Masa Kesultanan Aceh, benteng ini difungsikan sebagai benteng pertahanan menghadapi armada Portugis.  

Rasanya langit bisa kita gapai jika berdiri di reruntuhan Benteng Ini
di antara reruntuhan Benteng Indra Patra
Pantai Ujong Batee terletak tidak jauh dari Benteng Indra Patra. 

Dari dalam mobil Pak sopir menunjunkkan pemukiman warga yang disumbangkan oleh aktor dunia Jackie Chan, Wow Luar biasa, terima kasih Om Jackie 🙂 Puas berkeliling Banda Aceh kami menyeberangi lautan dengan kapal cepat dengan tarif Rp. 75,000 menuju Pulau Weh. 

Pulau Weh – Menurut Wikipedia Pulau Weh  adalah  pulau vulkanik kecil yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, Pada mulanya pulau ini terhubung dengan pulau Sumatera, kemudia terpisah oleh laut setelah erupsi gunung berapi terakhir pada zaman Pleistosen (1.808.000 hingga 11.500 tahun lalu)

Santai Bang, Ini Sabang – Kota terbesar di Pulau Weh adalah Sabang. Pulau ini terkenal dengan ekosistemnya; mau bukti ? dari Pelabuhan Balohan saya satu “angkot” dengan tim peneliti maritim dari Eropa; gak tanggung-tanggung, Sang peneliti juga membawa anaknya yang bakal jadi generasi penerus. Sungguh Kaya Indonesia-ku. 

Kapal Cepat Express Bahari 38 Menuju Balohan, Sabang
Suasana di dalam Kapal Cepat Express Bahari – 
Menikmati cemilan kripik balado dari Medan

Hold your breath….. Inhalation then easily breath out

Pemandangan yang Indah…

Monument NOL Kilometer : Merupakan tugu penanda titik paling barat wilayah NKRI, lautan di depan sana adalah Samudera Hindia, pemandangan ini kami abadikan tidak jauh dari monument Nol Kilometer, hanya tampak satu perahu kecil  dari kejauhan.. 

Jalanan ke arah tugu ini sepi, sesekali muncul gerombolan monyet yang mencari makan di pinggir jalan, atau mereka hanya duduk santai di ranting pohon. Selama perjalanan kami tidak bertemu dengan pengunjung lain, namun saat tiba di tempat tujuan ada juga wisatawan lain. Mereka malah minta berfoto dengan teman saya. 

Teman saya yang berfoto bersama Fansnya di Nol Kilometer
Gunung Api Jaboi – saat traveling, saya selalu meluangkan waktu berkunjung ke Gunung Api setempat, tak peduli masih aktif atau tidak. entatahlah Gunung Api membuat saya jatuh cinta, mereka tampak begitu tegap berdiri menjulang di angkasa, nun jauh di dalam perut bumi dapur mereka juga bekerja aktif… SubhAllah Sungguh mengagumkan… 

Gunung Api Jaboi, Sabang NAD –
 tak tampak lava hanya sembulan asap kecil dan bau belerang
Gunung Api Jaboi – 
sayangnya lava tidak terlihat namun bau belerang tajam menusuk hidung 
Deretan pantai nan Indah banyak dijumpai di Sabang, dijamin semuanya memikat hati ; 

Pantai Iboih – 
saking asiknya sandal saya hanyut… untung ada yang nolong 

View dari Penginapan kami 

kasur yang empuk lengkap dengan kelambu apik 
Tokek pun hadir sebagai eco-friend   
Malam hari, kami menikmati panorama alam “lightening” yang  tiap hitungan dua detik akan tampak kilauan petir menyambar di kejauhan sambil menikmati minuman hangat di dermaga kecil. 

Suasana pagi hari 
Iboih Jetty saat sun rise – persiapan check-out

Sayonara Sampai berjumpa pulang.. Berat hati meninggalkan tempat ini…dengan segala kenangan manis kami balik ke Medan. Kawan saya kembali ke Negaranya setelah transit di Changi. 


Ohhhh dan Saya… masih melanjutkan expedisi ini..

yukkkssss ikuti petualangan selanjutnya menuju Samudera Pasifik… 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *